Belum berakhir, tapi kita butuh jeda bagi
perjalanan. Kita butuh sedikit ruang di mana kita diharuskan untuk saling
melupakan sejenak. Untuk saling tidak memandang, untuk saling tidak bertegur
sapa. Untuk saling menjauh dari kehidupan masing-masing. Saya percaya, ini
hanya sebuah fase kehidupan yang harus kita jalani dengan baik. Saya percaya akan ada kebahagiaan di akhir cerita, walaupun ini
bukan cerita dongeng. Bukankah kita
tidak boleh berhenti berharap, selama kita masih percaya adanya Tuhan? Akan
selau ada akhir yang baik bagi jiwa yang bersabar, akan ada akhir yang bahagia
bagi orang-orang yang percaya. Karena, ketika kita berfikir bahwa kita bahagia,
maka kita akan bahagia, sesulit apapun keadaan itu. Percayalah..
Semuanya
akan baik-baik saja.
Jika
saat ini kita berpisah, kita berjalan di arah yang berbeda, saya percaya kelak
kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Kita memang tidak bisa
kembali seperti dulu, tapi tentu saja semua sudah jauh lebih baik dibanding
saat terakhir kita saling mengucap selamat tinggal, kan?
Jika
kita pernah saling melupakan, bukankah pertemuan kembali akan membuat kita
saling mengingat lagi. Bukan, bukan mengingat perasaan kita dulu. Tapi
mengingat dalam arti sebenarnya, kamu melihat saya, lalu kamu akan mencoba
menggali ingatan tentang siapa yang ada di hadapan kamu saat itu. Lalu kamu
akan mengingat, bahwa saya adalah salah satu kawan lama kamu. Itu jauh lebih
baik, kan?
Lalu
kita akan duduk menikmati senja sambil menyesap secangkir kopi hitam
kesukaanku, atau segelas susu kesukaanmu, mungkin. Lalu kita akan bercerita
tentang apa saja.. tentang perjalanan kita setelah berpisah, mungkin. Tentang
pekerjaan kita.. tentang apa sajalah yang telah terlewatkan untuk kita bagi.
Bahkan kita bisa saling bercerita tentang kehidupan rumah tangga kita, jika
memang masing-masing dari kita telah menemukan dan ditemukan. Kamu menemukan
tulang rusukmu, dan saya ditemukan oleh pemilik saya. Sejatinya, tidak ada yang
benar-benar berakhir di antara kita, sekeras apapun kamu menyangkal. Karena
ketika kita telah memulai untuk saling mengenal, maka tidak akan ada yang
berakhir. Kematianpun tidak akan mengakhiri itu, karena bukan kah kamu bersedia
mengantarkan saya ke tempat terakhir saya jika kelak saya yang harus
menghadap-Nya lebih dulu, kan? karena saya akan melakukan itu untuk kamu, jika
keadaan sebaliknya yang terjadi.
Ini
hanya jeda bagi perjalanan, percayalah, ini belum berakhir.
Kampung
Bugis, 17 Juni 2013
Risna_