Minggu, 20 April 2014

Jeda Bagi Perjalanan

Belum berakhir, tapi kita butuh jeda bagi perjalanan. Kita butuh sedikit ruang di mana kita diharuskan untuk saling melupakan sejenak. Untuk saling tidak memandang, untuk saling tidak bertegur sapa. Untuk saling menjauh dari kehidupan masing-masing. Saya percaya, ini hanya sebuah fase kehidupan yang harus kita jalani dengan baik. Saya percaya akan ada kebahagiaan di akhir cerita, walaupun ini bukan cerita dongeng.  Bukankah kita tidak boleh berhenti berharap, selama kita masih percaya adanya Tuhan? Akan selau ada akhir yang baik bagi jiwa yang bersabar, akan ada akhir yang bahagia bagi orang-orang yang percaya. Karena, ketika kita berfikir bahwa kita bahagia, maka kita akan bahagia, sesulit apapun keadaan itu. Percayalah..
Semuanya akan baik-baik saja.
Jika saat ini kita berpisah, kita berjalan di arah yang berbeda, saya percaya kelak kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Kita memang tidak bisa kembali seperti dulu, tapi tentu saja semua sudah jauh lebih baik dibanding saat terakhir kita saling mengucap selamat tinggal, kan?
Jika kita pernah saling melupakan, bukankah pertemuan kembali akan membuat kita saling mengingat lagi. Bukan, bukan mengingat perasaan kita dulu. Tapi mengingat dalam arti sebenarnya, kamu melihat saya, lalu kamu akan mencoba menggali ingatan tentang siapa yang ada di hadapan kamu saat itu. Lalu kamu akan mengingat, bahwa saya adalah salah satu kawan lama kamu. Itu jauh lebih baik, kan?
Lalu kita akan duduk menikmati senja sambil menyesap secangkir kopi hitam kesukaanku, atau segelas susu kesukaanmu, mungkin. Lalu kita akan bercerita tentang apa saja.. tentang perjalanan kita setelah berpisah, mungkin. Tentang pekerjaan kita.. tentang apa sajalah yang telah terlewatkan untuk kita bagi. Bahkan kita bisa saling bercerita tentang kehidupan rumah tangga kita, jika memang masing-masing dari kita telah menemukan dan ditemukan. Kamu menemukan tulang rusukmu, dan saya ditemukan oleh pemilik saya. Sejatinya, tidak ada yang benar-benar berakhir di antara kita, sekeras apapun kamu menyangkal. Karena ketika kita telah memulai untuk saling mengenal, maka tidak akan ada yang berakhir. Kematianpun tidak akan mengakhiri itu, karena bukan kah kamu bersedia mengantarkan saya ke tempat terakhir saya jika kelak saya yang harus menghadap-Nya lebih dulu, kan? karena saya akan melakukan itu untuk kamu, jika keadaan sebaliknya yang terjadi.
Ini hanya jeda bagi perjalanan, percayalah, ini belum berakhir.
Kampung Bugis, 17 Juni 2013

Risna_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar